Aktivitas pendakian di Gunung Merapi kembali menjadi sorotan publik setelah rekaman video yang memperlihatkan kerumunan pendaki di jalur Selo, Boyolali, viral di media sosial. Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam dari pihak Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) mengingat status gunung berapi aktif tersebut saat ini berada pada Level III atau Siaga.
Kepala BTNGM, Heri Wibowo, mengungkapkan kekecewaannya atas sikap masyarakat yang cenderung mengabaikan berbagai imbauan resmi. Menurutnya, seruan yang telah dikeluarkan oleh pihak Balai TN, Gubernur DIY (Sultan), hingga Kepala BNPB terkait larangan pendakian seolah tidak mendapatkan perhatian dari para pelaku pendakian mandiri.
Heri menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya melakukan pendekatan persuasif secara tertutup kepada warga setempat guna menghentikan akses pendakian ilegal tersebut. Meskipun pihak BTNGM memiliki opsi untuk melibatkan aparat TNI dan Polri dalam melakukan penjagaan fisik di jalur pendakian, ia menegaskan bahwa langkah tersebut sangat berisiko memicu benturan horizontal dengan masyarakat yang justru dapat menciptakan masalah baru.
Status penutupan jalur pendakian Gunung Merapi sendiri telah diberlakukan sejak tahun 2018 menyusul peningkatan aktivitas vulkanik. Regulasi tersebut kemudian dipertegas kembali pada November 2020 saat status Merapi dinaikkan ke level Siaga. Berdasarkan ketetapan tersebut, kegiatan pendakian untuk tujuan rekreasi dilarang keras dan hanya diizinkan bagi kepentingan mitigasi bencana atau penelitian ilmiah.
Hingga saat ini, petugas resor di Selo tetap disiagakan di lapangan untuk terus mengedukasi masyarakat. Kendati demikian, tantangan di lapangan cukup berat mengingat masih tingginya animo pendaki yang kerap mengabaikan faktor keselamatan dan rasionalitas demi menaklukkan puncak Merapi di tengah ancaman erupsi.