Jakarta kembali menegaskan posisinya sebagai lokomotif ekonomi nasional melalui percepatan transformasi digital yang kian masif. Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi QRIS di ibu kota menembus angka 3,8 miliar hingga Mei 2026, sebuah pencapaian signifikan dengan lonjakan mencapai 212 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam ajang Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 di Istora Senayan, Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menekankan peran vital Jakarta terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Dengan kontribusi ekonomi mencapai 16,7 persen, Jakarta dinilai sebagai etalase nasional yang harus terus dijaga stabilitasnya, terutama dengan catatan inflasi Juni 2026 yang cukup terkendali di angka 2,78 persen.
Digitalisasi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kini menjadi prioritas utama Bank Indonesia. Melalui integrasi ke sistem QRIS, UMKM diharapkan mampu memperluas akses pasar serta meningkatkan kapasitas usaha di tengah dinamika ekonomi global. BI sendiri menargetkan pencapaian nasional sebesar 17 miliar transaksi QRIS dengan dukungan 47 juta merchant yang terintegrasi pada tahun 2026.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menyebut JKF 2026 sebagai manifestasi kolaborasi inklusif antar-stakeholder. Dengan melibatkan 67 institusi, acara ini menjadi ajang strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi, memperluas digitalisasi, serta menjaga ketersediaan pangan melalui berbagai program intervensi seperti operasi pasar dan pemberdayaan pelaku usaha melalui program Jawara.
Momentum pertumbuhan ekonomi yang stabil pada angka 5,61 persen di triwulan pertama tahun ini menjadi modal kuat bagi Jakarta. Sinergi antara otoritas moneter dan pemerintah daerah diharapkan dapat terus mempertahankan daya saing Jakarta sebagai pusat bisnis global sekaligus memfasilitasi pergeseran perilaku konsumen menuju masyarakat yang sepenuhnya nontunai.