Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Lampung, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Jumat, 10 Juli 2026. Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pada pukul 21.40 WIB dengan menyemburkan kolom abu setinggi 150 meter di atas puncak.
Secara keseluruhan, tinggi kolom abu tersebut mencapai 307 meter di atas permukaan laut. Material vulkanik yang disemburkan terpantau berwarna kelabu hingga hitam pekat dengan intensitas sedang hingga tebal, serta terpantau bergerak menuju arah utara dan barat laut.
Rekaman data seismograf menunjukkan letusan berlangsung selama 27 detik dengan amplitudo maksimum mencapai 49 milimeter. Saat ini, pihak berwenang terus melakukan pengawasan ketat dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau untuk memantau perkembangan situasi terkini.
Status aktivitas gunung api tersebut hingga saat ini masih ditetapkan pada Level III atau Siaga. Sebagai langkah mitigasi, PVMBG secara tegas mengimbau masyarakat, wisatawan, nelayan, serta pendaki agar tidak mendekat atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif.
Pemerintah juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan hanya merujuk pada informasi resmi yang diterbitkan oleh Badan Geologi melalui PVMBG. Hal ini krusial untuk mencegah penyebaran informasi yang tidak terverifikasi atau hoaks yang berpotensi menimbulkan kepanikan di wilayah sekitar Selat Sunda.