Gunung Merapi terpantau kembali meningkatkan aktivitas vulkaniknya dengan menyemburkan awan panas guguran sebanyak dua kali pada Senin (6/7/2026) pagi. Fenomena geologi ini terjadi secara beruntun dalam rentang waktu yang cukup singkat, yakni pada pukul 08.28 WIB dan 08.41 WIB.
Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), luncuran awan panas pertama tercatat dengan jarak jangkau sejauh 1.700 meter ke arah hulu Kali Krasak. Aktivitas ini terekam dengan amplitudo maksimal 32,92 mm dan durasi selama 103,55 detik.
Hanya berselang 13 menit kemudian, puncak Merapi kembali melepas awan panas dengan daya luncur yang lebih jauh, yakni mencapai 2.000 meter ke arah hulu Kali Putih. Semburan kedua ini memiliki intensitas yang lebih kuat dengan amplitudo 121,54 mm dan durasi 124,88 detik.
Menanggapi kondisi tersebut, BPPTKG menegaskan bahwa status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa suplai magma yang berkelanjutan di kantung vulkanik membuat kondisi gunung masih sangat dinamis dan berpotensi memicu guguran susulan.
Pihak berwenang telah memetakan zona bahaya di sektor selatan hingga barat daya, yang mencakup aliran sungai utama seperti Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan radius maksimal hingga 7 kilometer. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam zona rawan tersebut dan tetap waspada terhadap potensi ancaman sekunder seperti banjir lahar dingin serta paparan abu vulkanik saat terjadi hujan di sekitar puncak gunung.