Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda kembali menunjukkan eskalasi yang signifikan. Sepanjang awal Juli 2026, tercatat sebanyak 11 kali letusan terjadi, yang mendorong Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk menetapkan peningkatan status gunung tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Petugas Pos Pengamatan GAK di Desa Hargopancuran, Andi Suardi, menegaskan bahwa perubahan status ini didasarkan pada analisis data seismik yang dipantau secara kontinu selama 24 jam. Protokol ketat kini diberlakukan, di mana masyarakat, nelayan, maupun wisatawan dilarang keras mendekati kawah aktif dalam radius aman sejauh tiga kilometer demi menghindari potensi bahaya erupsi yang tidak terduga.

Kendati status gunung telah naik, Andi memberikan konfirmasi bahwa kondisi di kawasan pesisir Lampung maupun permukiman terdekat, seperti Pulau Sebesi, saat ini masih dalam kategori aman. Secara geografis, posisi GAK yang terisolasi di tengah laut meminimalisir dampak langsung letusan terhadap daratan, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa rasa panik yang berlebihan.

Penting untuk dipahami bahwa Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah panjang sebagai sisa dari erupsi mahadahsyat Krakatau tahun 1883. Sejak pertama kali muncul ke permukaan pada 1930, GAK terus mengalami fase pertumbuhan melalui siklus erupsi berkala. Pos pengamatan di Lampung, yang telah beroperasi sejak 1994, terus berkoordinasi intensif dengan BPBD Lampung Selatan guna memastikan sistem mitigasi bencana serta jalur evakuasi tetap siap siaga.

Masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi resmi dari instansi berwenang dan tidak terpengaruh oleh berbagai informasi spekulatif atau berita bohong yang beredar di tengah masyarakat. Kewaspadaan harus tetap dijaga, namun tetap mengedepankan data berbasis sains dalam menyikapi situasi vulkanik terkini.