Safari politik mantan Presiden Joko Widodo ke Lampung baru-baru ini menjadi sorotan tajam publik, bukan sekadar karena lawatan daerahnya, melainkan akibat prosesi adat dalam penganugerahan gelar "Baginda Pemuka Bangsa". Dalam rangkaian upacara tersebut, Jokowi melakukan ritual menginjak kepala kerbau yang telah disembelih, sebuah tradisi yang dalam adat Lampung dimaknai sebagai simbol kerendahan hati dan pembuangan sifat buruk.

Namun, dalam kacamata komunikasi politik, tindakan tersebut memicu gelombang interpretasi yang beragam. Banyak pihak mengaitkan visualisasi anatomi kerbau dengan simbol banteng milik PDI Perjuangan. Fenomena ini menciptakan ketegangan makna antara nilai budaya yang sakral dan persepsi politik yang sarat akan kepentingan ideologis di tengah dinamika hubungan Jokowi dengan partai politik lamanya.

Berdasarkan perspektif dramaturgi, sosok Jokowi yang masih memiliki magnet politik kuat dipandang selalu beroperasi di panggung depan, di mana setiap gestur non-verbalnya menjadi konsumsi publik. Penggunaan simbol budaya sebagai instrumen komunikasi politik memberikan ruang aman bagi pelakunya; jika menuai kritik, narasi pelestarian adat dapat dijadikan perisai, sementara pesan laten atau sindiran politik telah tersampaikan secara efektif kepada audiens.

Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya nilai budaya lokal ketika ditarik ke dalam pusaran kepentingan politik nasional. Penggunaan algoritma publik yang memperkuat bias kognitif membuat makna asli sebuah ritual adat terpinggirkan oleh kepentingan narasi politik. Bagi para pengamat, safari ini menjadi penanda bahwa Jokowi telah kembali aktif mengelola panggung politik pasca-kepresidenannya, dengan arah dukungan yang kini semakin jelas tertuju pada Partai Solidaritas Indonesia (PSI).