Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda hingga kini masih menunjukkan pola yang fluktuatif. Meski statusnya bertahan di Level III atau Siaga, petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA), Anggi Nuryo Saputro, menegaskan bahwa ancaman tsunami saat ini diprediksi jauh lebih kecil dibandingkan tragedi serupa pada tahun 2018 silam.
Menurut analisis para ahli, perbedaan signifikan terletak pada ketinggian tubuh gunung. Pasca-kejadian tahun 2018, ketinggian Gunung Anak Krakatau telah berkurang drastis dari 338 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi 157 mdpl. Kondisi morfologi yang telah berubah ini menjadi faktor utama yang meminimalisir risiko longsoran bawah laut pemicu tsunami.
Hingga saat ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap memberlakukan zona larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Masyarakat dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati area tersebut dan senantiasa memantau perkembangan status gunung melalui platform resmi MAGMA Indonesia demi keamanan bersama.
Menyikapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Banten melalui BPBD telah memperkuat langkah-langkah mitigasi. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada. BPBD Banten menekankan pentingnya pemahaman terhadap jalur evakuasi dan titik kumpul yang telah ditetapkan, mengingat estimasi waktu tanggap yang tersedia jika terjadi bencana adalah sekitar 40 menit pasca-letusan.
Selain memberikan pelatihan evakuasi mandiri kepada warga, pemerintah daerah juga telah melatih tim Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) sebagai garda terdepan dalam proses pertolongan. Koordinasi yang ketat dengan PVMBG terus dilakukan guna memastikan informasi akurat dapat tersampaikan dengan cepat kepada masyarakat di pesisir Selat Sunda.