Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Gunung Merapi. Berdasarkan pengamatan terbaru, gunung yang memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut terpantau meluncurkan guguran lava pijar sebanyak sembilan kali dengan jarak luncur maksimum mencapai dua kilometer ke arah alur Sungai Sat dan Sungai Putih.

Selain visual guguran lava, instrumen pemantauan mencatat terjadinya aktivitas seismik yang cukup intensif. Data dari laman Magma Indonesia menunjukkan adanya 42 kali gempa guguran dan sembilan kali gempa fase banyak atau hybrid yang menandakan pergerakan magma masih terus berlangsung di dalam perut gunung.

Meskipun aktivitas vulkanik cenderung meningkat, kondisi cuaca di sekitar kawasan puncak dilaporkan cerah dengan suhu udara berkisar antara 15,8 hingga 17 derajat Celsius. Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih ditetapkan pada Level III atau Siaga, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya guguran lava maupun awan panas.

Otoritas terkait kembali mengingatkan warga untuk tidak melakukan aktivitas di radius bahaya yang telah ditentukan. Mengingat karakter Gunung Merapi yang aktif, lontaran material vulkanik berisiko menjangkau wilayah hingga radius tiga kilometer dari pusat kawah, terutama di sepanjang aliran sungai yang berhulu di gunung tersebut.