Kawasan pesisir Selat Sunda mengalami rentetan fenomena geologi pada Rabu (8/7/2026) pagi, setelah gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah tersebut. Gempa yang berpusat di laut pada kedalaman 43 kilometer ini terasa hingga ke Banten, Bogor, hingga Bali, memicu kewaspadaan warga di sepanjang pesisir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa guncangan tersebut dipicu oleh pergerakan sesar naik (thrust fault) di zona transisi subduksi. Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, hasil pemodelan resmi memastikan bahwa peristiwa tektonik ini tidak berpotensi tsunami serta tidak memicu aktivitas susulan yang membahayakan.

Hanya berselang beberapa jam setelah gempa, Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas vulkanik dengan menyemburkan kolom abu setinggi 250 meter pada pukul 07.11 WIB. Kendati terjadi di waktu yang berdekatan, PVMBG menegaskan bahwa erupsi tersebut murni dipicu oleh dinamika magma internal, bukan dampak langsung dari getaran gempa bumi.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berada dalam status Level III atau Siaga. Masyarakat diimbau untuk tetap mematuhi radius bahaya sejauh 3 kilometer dari kawah. Pakar kebencanaan dari IABI, Daryono, menekankan pentingnya kesiapsiagaan warga di kawasan pantai, termasuk mengenali jalur evakuasi mandiri, menggunakan masker pelindung dari abu vulkanik, serta senantiasa memverifikasi informasi melalui kanal resmi guna menghindari disinformasi.