Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok yang berlokasi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan eskalasi signifikan. Peningkatan frekuensi erupsi serta dentuman yang terdengar hingga ke pemukiman warga teramati secara intensif sejak pertengahan Juni hingga awal Juli 2026.
Petugas Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian, mengonfirmasi bahwa meskipun terjadi lonjakan aktivitas, status gunung tersebut hingga saat ini masih ditetapkan pada Level II atau Waspada. Berdasarkan data pemantauan instrumental, gunung api tersebut memperlihatkan fluktuasi kegempaan yang cukup konsisten sejak statusnya diturunkan pada akhir Februari lalu.
Fenomena yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah suara dentuman dari kawah yang cukup kuat, bahkan dilaporkan mampu menggetarkan kaca jendela dan dinding rumah penduduk di sekitar lereng gunung. Pos Pengamatan mencatat ribuan gempa erupsi dan hembusan terjadi sepanjang bulan Juni hingga pekan pertama Juli, yang menunjukkan tingginya energi seismik di bawah permukaan.
Secara visual, aktivitas gunung ditandai dengan munculnya kolom erupsi yang mencapai ketinggian 600 meter di atas puncak. Selain itu, lontaran material pijar telah terdeteksi jatuh dalam radius 100 hingga 500 meter dari pusat kawah, yang menjadi indikator bahwa gunung sedang berada dalam fase erupsi aktif.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara tegas mengeluarkan larangan bagi pendaki maupun masyarakat untuk beraktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat kawah. Warga juga diimbau untuk tidak panik menghadapi suara gemuruh, namun tetap disiplin menggunakan pelindung diri seperti masker dan kacamata guna mengantisipasi paparan abu vulkanik serta menjaga kebersihan sumber air bersih.