Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat lonjakan aktivitas pada Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda. Dalam rentang waktu antara 2 Juli hingga 12 Juli 2026, instrumen pemantau telah mendeteksi sedikitnya 18 kali kejadian erupsi.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, Rio Bonik Situmorang, mengungkapkan bahwa karakter vulkanik gunung ini cenderung dinamis. Meskipun sempat terjadi serangkaian letusan, hingga Minggu (12/7) belum ada laporan mengenai aktivitas erupsi tambahan. Letusan terakhir yang tercatat dalam sistem pemantauan terjadi pada malam sebelumnya sekitar pukul 23.34 WIB.

Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan pada Level III atau Siaga. Proses pemantauan visual saat ini menghadapi kendala teknis akibat tertutupnya area puncak oleh kabut tebal, sehingga observasi dari Pos Pengamatan Pasauran di Kabupaten Serang belum dapat dilakukan secara optimal.

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, tim PVMBG terus mengoptimalkan pemantauan selama 24 jam penuh menggunakan berbagai instrumen canggih. Data yang terkumpul menjadi landasan bagi para ahli untuk menentukan langkah mitigasi bencana yang tepat bagi wilayah sekitar.

Pihak berwenang tetap memberlakukan zona larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Masyarakat, nelayan, serta wisatawan diimbau untuk mematuhi batasan tersebut dan tetap tenang, serta hanya merujuk pada informasi resmi dari otoritas terkait guna menghindari kepanikan akibat kabar yang tidak terverifikasi.