Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mencatatkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Selasa (30/6/2026). Sepanjang periode 12 jam, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami erupsi sebanyak lima kali dengan ketinggian kolom abu yang bervariasi antara 500 hingga 900 meter di atas puncak.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan bahwa letusan terakhir terjadi pada pukul 13.04 WIB dengan kolom abu teramati setinggi 900 meter atau mencapai 4.576 meter di atas permukaan laut. Material vulkanik tersebut terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang bergerak ke arah timur laut dan timur. Berdasarkan rekaman seismograf, letusan ini memiliki amplitudo maksimum 21 mm dengan durasi mencapai 99 detik.

Hingga saat ini, status Gunung Semeru masih ditetapkan pada Level III atau Siaga. Masyarakat diimbau untuk mematuhi zona larangan yang telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Radius aman yang ditetapkan mencakup jarak lima kilometer dari kawah atau puncak, mengingat risiko bahaya lontaran batu pijar yang dapat membahayakan keselamatan warga.

Selain itu, pihak berwenang menegaskan larangan beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari pusat erupsi. Masyarakat juga dilarang mendekati area dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran tersebut, mengingat potensi ancaman awan panas dan aliran lahar yang dapat meluas hingga 17 kilometer dari puncak gunung.

Warga yang beraktivitas di sekitar lembah atau aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, diminta meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi guguran lava maupun ancaman banjir lahar dingin yang dapat terjadi sewaktu-waktu.