Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur mengambil langkah strategis dalam menangani isu kesehatan mental yang kini kian mendesak di kalangan remaja. Melalui program penguatan konselor sebaya, lembaga ini berupaya membangun ekosistem pendampingan yang lebih inklusif dan solutif di wilayah Kalimantan Timur serta Kalimantan Utara.
Duta Generasi Berencana (Genre) Putri Kaltim 2025, Nayuthaya Nazwa Nanzani, menekankan bahwa literasi kesehatan mental harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, pemahaman mendalam tentang manajemen emosi bukan sekadar cara menangani gangguan psikologis, melainkan instrumen pencegahan yang krusial bagi generasi muda dalam menavigasi dinamika kehidupan.
Merujuk pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Nazwa menyoroti fakta bahwa satu dari tujuh remaja di rentang usia 10 hingga 19 tahun berisiko mengalami masalah kesehatan mental tanpa pendampingan yang memadai. Minimnya akses terhadap layanan dukungan ini dikhawatirkan berdampak buruk pada performa akademik, kesehatan sosial, hingga prospek masa depan mereka.
Lebih lanjut, Nazwa menjelaskan bahwa fase remaja merupakan periode transisi yang sangat dinamis. Beragam tekanan, mulai dari perubahan biologis, ekspektasi sosial, hingga arus informasi di media digital, menuntut remaja memiliki daya tahan emosional yang mumpuni agar tidak terjerumus dalam gejolak psikologis yang merusak.
Dalam konteks inilah, keberadaan konselor sebaya dianggap memiliki posisi yang krusial. Sebagai rekan sejawat, konselor sebaya dinilai lebih mampu menciptakan ruang dialog yang aman dan nyaman, sehingga remaja lebih terbuka untuk berbagi cerita serta mencari dukungan emosional yang valid dan terarah.