Brawijaya Hospital Group meluncurkan rangkaian inovasi medis berbasis teknologi canggih guna meningkatkan efektivitas pengobatan dan mempercepat masa pemulihan pasien. Inovasi ini mencakup prosedur bedah jantung invasif minimal, terapi penanganan gangguan irama jantung, hingga layanan kesuburan modern. Langkah strategis ini dipaparkan dalam forum edukasi kesehatan bertajuk "Saving Time, Saving Organ, Saving Future" yang digelar di Jakarta.

Chief Commercial Officer Brawijaya Hospital Group, drg. Hestiningsih, S.E., M.A.R.S., menjelaskan bahwa integrasi teknologi dalam layanan medis merupakan respons terhadap kebutuhan masyarakat akan perawatan yang cepat dan komprehensif. Selain meningkatkan kualitas pelayanan di fasilitas yang sudah ada, pihak manajemen juga merencanakan ekspansi jaringan rumah sakit ke beberapa wilayah baru.

Salah satu terobosan utama ditawarkan oleh Brawijaya Hospital Taman Mini melalui metode Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS). Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular, Dr. dr. Ismail Dilawar, Sp.BTKV, mengungkapkan bahwa teknik bedah jantung ini tidak lagi memerlukan pembelahan tulang dada seperti operasi konvensional. Melalui sayatan kecil di sisi kanan dada atau ketiak, risiko infeksi dapat diminimalkan dan pasien bisa kembali beraktivitas dengan lebih cepat.

Sementara itu, dalam penanganan penyakit gangguan irama jantung atau aritmia, Brawijaya Hospital Saharjo mempromosikan tindakan ablasi sebagai solusi definitif. Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Simon Salim, Sp.PD-KKV, menegaskan bahwa ablasi merupakan standar utama untuk menyembuhkan aritmia secara permanen, melampaui terapi obat-obatan yang hanya bersifat meredakan gejala.

Rumah sakit ini juga menaruh perhatian besar pada kesehatan ibu, anak, dan reproduksi. Dr. Med. Firman Santoso, Sp.OG, mengingatkan bahaya diabetes gestasional pada ibu hamil yang berpotensi memicu cacat jantung bawaan pada bayi. Di sisi lain, untuk membantu pasangan yang mendambakan keturunan, Benih IVF Center menghadirkan teknologi bayi tabung dengan metode Frozen Embryo Transfer (FET) yang mencatatkan tingkat keberhasilan hingga 66,7 persen pada kelompok usia produktif lanjut.