Universitas Brawijaya (UB) menegaskan perannya dalam mendukung transformasi pembangunan kesehatan nasional, sejalan dengan arahan pemerintah dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026. Melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, UB berupaya menjembatani kebijakan berbasis bukti guna mengatasi tantangan kesehatan strategis yang dihadapi Indonesia saat ini.

Fokus utama yang menjadi perhatian adalah tingginya prevalensi penyakit tidak menular, yang mencakup hiperkolesterolemia, hipertensi, hingga diabetes melitus. Selain itu, masalah kesehatan gigi, khususnya karies, menjadi isu krusial yang memerlukan penanganan promotif dan preventif secara masif. Universitas Brawijaya menargetkan penguatan edukasi gizi dan literasi kesehatan masyarakat sebagai langkah preventif utama, selaras dengan regulasi terbaru mengenai transparansi kandungan gula, garam, dan lemak pada produk pangan siap saji.

Di sisi lain, UB turut memberikan perhatian besar pada keberhasilan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digalakkan pemerintah. Mengingat rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin—yang saat ini masih di bawah 10 persen—pihak kampus berkomitmen mengoptimalkan peran tenaga kesehatan dalam setiap tahapan program.

Strategi operasional yang dirancang UB mencakup pendampingan intensif bagi tenaga kesehatan, monitoring kesehatan masyarakat secara berkelanjutan, hingga penguatan edukasi pasca-skrining. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Universitas Brawijaya berupaya memastikan bahwa program kesehatan pemerintah tidak hanya berhenti pada tahap pemeriksaan, tetapi mampu menciptakan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat secara luas.