Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menyelenggarakan konferensi nasional bertajuk "Tantangan Demokrasi Indonesia dan Global di Era Politik Oligarki, Digital dan Krisis Iklim" pada Jumat (10/10) di Kampus FISIP UI, Depok. Forum ini menjadi wadah krusial untuk membedah kompleksitas dinamika politik tanah air pasca-Pemilu 2024.
Dr. Phil. Panji Anugrah Permana dalam sambutannya menekankan bahwa ilmu politik memegang peran vital dalam memberikan analisis mendalam atas fenomena yang terjadi. Menurutnya, tiga isu utama yakni oligarki, digitalisasi, dan perubahan iklim merupakan tantangan nyata yang menuntut solusi konkret agar demokrasi di Indonesia dapat berjalan lebih inklusif dan terbuka bagi partisipasi masyarakat sipil.
Diskusi kemudian berlanjut pada ancaman ruang digital yang dipaparkan oleh Prof. Ika Idris, PhD dari Monash University. Meskipun teknologi informasi memperluas akses publik, ia memperingatkan bahwa ruang digital juga menjadi lahan subur bagi disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi politik. Ika mencontohkan bagaimana isu sumber daya alam seperti nikel di Sulawesi dan Maluku Utara sering kali dipelintir oleh narasi kepentingan global yang melemahkan kepercayaan publik terhadap negara.
Sementara itu, Irwansyah, PhD, menyoroti keterkaitan erat antara oligarki dan krisis iklim. Ia menegaskan bahwa kebijakan publik di sektor energi dan lingkungan sering kali didikte oleh struktur kekuasaan yang mengontrol sumber daya alam, seperti sawit dan batubara. Akibatnya, arah pembangunan cenderung berpihak pada kepentingan industri besar alih-alih keberlanjutan ekologis maupun kesejahteraan rakyat jangka panjang.
Untuk membangun demokrasi yang tangguh, para pakar sepakat bahwa penguatan literasi digital, pendidikan publik, dan demokratisasi transisi energi menjadi agenda yang mendesak. Kebijakan iklim pun dinilai harus menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek utama, bukan sekadar pelengkap wacana teknis agar sistem demokrasi tetap relevan di tengah krisis global.