Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang kini berada pada status Level III atau Siaga, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah segera memperkuat kesiapsiagaan nasional. Langkah mitigasi yang terintegrasi dinilai sangat krusial guna menjamin keselamatan masyarakat, khususnya yang bermukim di sepanjang kawasan pesisir Selat Sunda.

Puan menegaskan bahwa sebagai negara yang berada di jalur cincin api (ring of fire), Indonesia dituntut memiliki sistem mitigasi bencana yang tangguh dan menyeluruh. Menurutnya, meskipun bencana geologi tidak dapat dicegah, dampak kerusakan maupun korban jiwa dapat diminimalkan jika sistem peringatan dini bekerja secara cepat, terpadu, dan berbasis data ilmiah.

Momentum peningkatan aktivitas gunung api ini dinilai harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan infrastruktur kebencanaan. Evaluasi tersebut mencakup keandalan alat pemantau, efektivitas sirene peringatan dini, kelayakan jalur evakuasi, hingga kesiapan pemerintah daerah dalam mengoordinasikan langkah penyelamatan.

Parlemen juga menyoroti pentingnya alur komunikasi yang jelas dan edukatif dari lembaga berwenang seperti PVMBG, BMKG, dan BNPB agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan terhindar dari kepanikan akibat berita bohong. Selain itu, penanganan khusus bagi kelompok rentan harus diprioritaskan agar proses evakuasi saat kondisi darurat dapat berjalan lebih cepat.

Di samping ancaman vulkanik, Puan mengingatkan potensi cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Bavi yang memicu hujan lebat dan gelombang tinggi. DPR berkomitmen untuk terus mengawasi kesiapan pemerintah dalam memodernisasi teknologi kebencanaan dan meningkatkan kapasitas mitigasi secara berkelanjutan.