Gunung Semeru yang terletak di Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Pada Selasa (14/7/2026) pagi, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami rangkaian erupsi beruntun dengan ketinggian kolom letusan mencapai 1,3 kilometer di atas puncak Mahameru, atau sekitar 4.976 meter di atas permukaan laut.
Pos Pengamatan Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh melaporkan bahwa letusan setinggi 1,3 kilometer tersebut teramati terjadi sebanyak dua kali, yakni pada pukul 05:39 WIB dan pukul 09:19 WIB. Erupsi pertama melontarkan kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang mengarah ke utara. Sementara pada letusan kedua, kolom abu dengan intensitas tebal bergerak ke arah timur laut dan timur.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik ini terekam di alat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 23 mm dan durasi gempa hembusan sekitar 116 detik. Secara kumulatif, Gunung Semeru telah mengalami sedikitnya tujuh kali erupsi sejak tengah malam hingga menjelang siang hari, tepatnya dari pukul 00:32 WIB hingga 11:13 WIB, dengan tinggi kolom letusan berkisar antara 800 meter hingga 1,3 kilometer.
Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Semeru masih bertahan pada Status Level III (Siaga). Sehubungan dengan kondisi tersebut, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk mematuhi zona bahaya dan tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari pusat erupsi.
Di luar radius tersebut, warga juga dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan karena adanya potensi luapan awan panas guguran serta aliran lahar yang dapat menjangkau hingga jarak 17 kilometer dari puncak. Selain itu, radius steril sejauh 5 kilometer dari kawah aktif tetap diberlakukan guna menghindari bahaya lontaran batu pijar. Masyarakat juga diminta mewaspadai aliran sungai berhulu di Semeru, termasuk Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.