Sosok pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih akrab disapa Haji Isam, kembali menyedot perhatian publik setelah menghadiri pencatatan saham perdana (IPO) PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) di Bursa Efek Indonesia. Kehadirannya di tengah tokoh-tokoh besar seperti Raffi Ahmad dan Boy Thohir menegaskan posisi barunya di industri kreatif, di mana Raffi secara terbuka menyebut Haji Isam sebagai mentor sekaligus pemegang saham di perusahaannya.

Sebelum membangun imperium bisnis raksasa di bawah bendera Jhonlin Group, perjalanan hidup Haji Isam dimulai dari bawah. Pria kelahiran Bone, 1 Januari 1977 ini sempat melakoni berbagai pekerjaan kasar, mulai dari tukang ojek hingga operator alat berat di Kalimantan Selatan. Titik balik kariernya terjadi pada tahun 2003 dengan mendirikan PT Jhonlin Baratama, sebuah langkah awal yang mengantarkannya menerima penghargaan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2025.

Hingga kini, sektor pertambangan batu bara tetap menjadi pilar utama pendapatan Jhonlin Group. Melalui PT Jhonlin Baratama, konglomerasi ini mengelola rantai pasok batu bara secara mandiri dan terintegrasi dari hulu ke hilir. Jhonlin Group menekan biaya operasional dengan menguasai infrastruktur penunjang sendiri, seperti jalan hauling, pelabuhan khusus, hingga armada kapal tongkang di bawah PT Jhonlin Marine Lines dan PT Dua Samudera Perkasa.

Tidak puas hanya di sektor tambang, Jhonlin Group juga menancapkan pengaruhnya di sektor agribisnis dan energi terbarukan melalui PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR). Emiten ini memproduksi crude palm oil (CPO) dan mengoperasikan pabrik biodiesel yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2021. Diversifikasi agribisnis ini juga mencakup industri gula di Bombana, Sulawesi Tenggara, yang dikelola untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kekuatan finansial Haji Isam juga tercermin dari portofolio kepemilikan saham di pasar modal, termasuk PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan JARR. Strategi ekspansi terbarunya ditandai dengan akuisisi sekitar 21,12 persen saham emiten nikel PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) senilai Rp936 miliar pada Mei 2026. Langkah strategis ini menandai masuknya Jhonlin Group ke ekosistem mineral mentah pendukung kendaraan listrik.

Dengan merambah ke industri kreatif bersama RANS, portofolio bisnis Haji Isam kini kian terdiversifikasi. Model integrasi vertikal yang diterapkan pada unit bisnisnya terbukti ampuh meminimalkan ketergantungan pada pihak ketiga. Keberhasilan ini memperkokoh posisi Jhonlin Group sebagai salah satu konglomerasi paling dinamis dan berpengaruh di Indonesia saat ini.