Implementasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sektor medis kini memasuki babak baru. Tidak lagi sebatas analisis data atau pembacaan hasil diagnostik, teknologi ini mulai berperan aktif sebagai pendamping dokter dalam tindakan bedah jantung yang kompleks, khususnya pada prosedur perbaikan katup mitral atau mitral regurgitasi secara transkateter.
Di St. Antonius Hospital, Belanda, para ahli kardiologi intervensi memanfaatkan teknologi pencitraan berbasis AI hasil kolaborasi dengan Philips. Inovasi ini memungkinkan dokter untuk menavigasi perangkat medis ke dalam jantung dengan tingkat akurasi yang tinggi tanpa harus melalui operasi jantung terbuka. Hal ini menjadi terobosan signifikan mengingat prosedur transkateter dilakukan saat jantung pasien masih berdenyut.
Tantangan utama dalam perbaikan katup mitral adalah memastikan perangkat berada pada posisi yang sangat spesifik agar tidak merusak struktur organ. Dahulu, dokter harus menyinkronkan visualisasi dari dua layar berbeda, yakni sinar-X dan ekokardiografi. Kini, sistem AI mampu mengintegrasikan kedua jenis pencitraan tersebut ke dalam satu tampilan terpadu yang real-time, bahkan mampu mendeteksi lokasi perangkat meski berada di luar bidang pandang dua dimensi.
Sistem yang dikenal sebagai DeviceGuide ini berfungsi sebagai navigasi cerdas yang membantu dokter memantau pergerakan alat di dalam tubuh secara berkelanjutan. Dengan visualisasi yang optimal meski jantung terus bergerak, tingkat ketelitian tindakan dapat ditingkatkan secara drastis dibandingkan metode konvensional.
Selain meningkatkan ketepatan teknis, penggunaan AI juga terbukti memperlancar koordinasi tim medis di ruang operasi. Dengan referensi visual yang seragam bagi seluruh staf, pengambilan keputusan menjadi lebih efisien dan fokus dokter dapat sepenuhnya tertuju pada keselamatan pasien. Keberhasilan teknologi ini kini menjadi standar baru yang diandalkan oleh para kardiolog dalam praktik harian mereka.