Dinas Kesehatan Kota Samarinda menorehkan prestasi gemilang dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, khususnya program penanggulangan HIV. Keberhasilan menembus target skrining hingga 99,2 persen di tengah keterbatasan anggaran ini menarik perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk melakukan supervisi dan analisis langsung di lapangan.

Tim dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI yang beranggotakan lima orang mengunjungi Samarinda guna mempelajari strategi taktis yang diterapkan pemerintah daerah. Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih, menjelaskan bahwa efisiensi pengelolaan anggaran yang minim namun menghasilkan capaian SPM makro sebesar 99,8 persen menjadi daya tarik utama bagi pemerintah pusat.

Fokus utama evaluasi ini diarahkan pada metode skrining HIV yang diterapkan di Samarinda. Dari target sekitar 59 ribu sasaran pada tahun lalu, jajaran Dinkes setempat berhasil menyaring 99,2 persen di antaranya. Deteksi dini ini dinilai krusial untuk melacak kasus baru secara lebih cepat demi meminimalkan risiko mortalitas akibat HIV.

Memasuki pertengahan tahun ini, progres skrining dilaporkan masih berjalan sesuai jalur target, yakni mencapai sekitar 45 persen dari proyeksi tahunan hingga Mei. Dari sekitar 19 ribu warga yang telah menjalani pemeriksaan, tercatat 180 orang terkonfirmasi positif HIV, dengan 140 orang di antaranya telah bersedia mengakses regimen pengobatan secara rutin.

Ismed menjamin seluruh layanan pemeriksaan dan obat-obatan bagi pasien HIV disediakan secara gratis oleh pemerintah pusat. Akses pengobatan medis ini tersedia luas di puskesmas maupun rumah sakit dan klinik swasta yang telah bermitra resmi dengan Dinkes Samarinda, dengan jaminan kerahasiaan identitas pasien yang sangat ketat.

Kendati fasilitas dan obat-obatan telah terpenuhi dengan baik, hambatan terbesar di lapangan saat ini adalah stigma sosial yang masih melekat kuat pada penderita HIV. Ketakutan masyarakat untuk memeriksakan diri jauh lebih besar dibandingkan pemeriksaan penyakit umum lainnya, sehingga Dinkes berkomitmen memperluas edukasi bahwa deteksi dini dapat memperpanjang harapan hidup pasien sebelum masuk ke fase klinis AIDS.