Melakukan pendakian pada dini hari sering kali memicu ketegangan psikologis akibat kelelahan dan minimnya pencahayaan. Di tengah keheningan alam liar, suara ranting patah atau embusan angin malam kerap kali disalahartikan sebagai gangguan dari entitas gaib oleh para pendaki.

Kecenderungan untuk langsung mengaitkan fenomena alam dengan hal mistis tidak lepas dari budaya masyarakat yang akrab dengan cerita horor sejak kecil. Akibatnya, alih-alih mengedepankan literasi sains, sebagian pendaki membawa pola pikir takhayul tersebut hingga ke atas gunung.

Secara akademis, fenomena ini erat kaitannya dengan konsep God of the Gaps, yakni kecenderungan manusia menggunakan penjelasan supranatural untuk mengisi celah ketidaktahuan. Menyalahkan makhluk halus atas insiden tersesat atau kecelakaan menjadi jalan pintas emosional untuk menghindari pengakuan atas kelalaian sendiri, seperti ketidakmampuan membaca navigasi atau peta.

Padahal, alam semesta, termasuk gunung, bekerja secara mekanis dan netral tanpa memedulikan aspek moral manusia. Anggapan bahwa gunung dapat "dijinakkan" hanya dengan menjaga tutur kata merupakan ilusi psikologis yang mengabaikan realitas bahaya fisik seperti cuaca ekstrem dan medan yang curam.

Dari sudut pandang medis, sebagian besar kasus pendaki yang berhalusinasi atau meracau disebabkan oleh penurunan pasokan oksigen ke otak (hipoksia) atau kedinginan ekstrem (hipotermia). Sayangnya, gejala-gejala klinis ini sering kali salah diidentifikasi sebagai kesurupan atau gangguan jin oleh rekan sesama pendaki.

Kesalahan fatal ini kerap berujung pada penanganan darurat yang terlambat. Bukannya segera memberikan kehangatan fisik melalui selimut hangat atau pertolongan pertama, korban yang kritis justru dibiarkan kedinginan demi ritual pengusiran setan, yang pada akhirnya dapat berakibat fatal bagi keselamatan nyawa.

Keselamatan di alam bebas tidak ditentukan oleh kepatuhan terhadap mitos, melainkan kematangan persiapan fisik, kelengkapan logistik, serta kemampuan navigasi yang waras. Mengutamakan rasionalitas dan akal sehat adalah kunci utama untuk menekan angka kecelakaan di gunung.