Tim nasional Mesir sukses mengukir sejarah baru dalam ajang Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Australia melalui drama adu penalti 4-2. Laga yang berlangsung di Dallas Stadium, Amerika Serikat, pada Jumat (3/7/2026) tersebut berakhir dengan skor imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu, sebelum akhirnya The Pharaohs memastikan tiket ke babak 16 besar untuk menghadapi Argentina.
Momen emosional tersaji saat pelatih Mesir, Hossam Hassan, mengibarkan bendera Palestina di tengah lapangan sebagai simbol solidaritas. Dalam konferensi pers pascapertandingan, Hassan menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian olahraga, melainkan bentuk dukungan moril bagi rakyat Palestina yang tengah dirundung konflik.
Kemenangan bersejarah ini turut dirayakan oleh warga di Jalur Gaza. Meski berada di tengah puing-puing bangunan dan tenda pengungsian, ribuan warga berkumpul menyaksikan pertandingan melalui layar lebar. Bagi mereka, sorak-sorai kemenangan ini menjadi pelipur lara di tengah kondisi kemanusiaan yang sulit, memberikan secercah kebahagiaan di tengah kepungan krisis.
Di sisi lain, perjalanan Mesir menuju babak gugur sempat diwarnai insiden kecil di hotel tempat tim menginap. Federasi Sepak Bola Mesir melaporkan adanya perselisihan antara delegasi tim dengan oknum kepolisian Dallas saat direktur tim, Ibrahim Hassan, dan pemain Trezeguet mencoba berinteraksi dengan penggemar. Meski demikian, pihak kepolisian setempat menyatakan bahwa situasi telah terselesaikan dan tidak berlanjut ke ranah hukum.
Keberhasilan Mesir melaju ke fase berikutnya kini menjadikan mereka sebagai tim kuda hitam yang patut diwaspadai. Lebih dari sekadar statistik, penampilan tim ini di Piala Dunia 2026 telah menjadi simbol solidaritas yang melintasi batas-batas geopolitik, mengundang perhatian luas dari komunitas internasional.