Raksasa produsen chip memori, Micron Technology (MU), baru saja mengalami guncangan signifikan di Wall Street. Harga saham perusahaan tersebut merosot hingga 22 persen dari level tertinggi sepanjang masa di angka USD 1.255, menghapus seluruh keuntungan yang sempat diraih pasca-laporan keuangan kuartalan pada akhir Juni lalu. Saat ini, saham Micron parkir di level USD 984,75.

Anjloknya harga saham ini terbilang ironis mengingat kinerja operasional Micron sebenarnya melampaui ekspektasi pasar, didorong oleh tingginya permintaan chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Namun, para analis menilai pasar telah bereaksi terhadap kejenuhan momentum. Strategist dari 22V Research, Jeff Jacobson, memperingatkan bahwa ketika saham dengan sentimen positif gagal melanjutkan reli, investor perlu waspada terhadap potensi pembalikan tren akibat perdagangan yang sudah terlalu padat.

Tekanan jual yang dialami Micron dipicu oleh kekhawatiran eksternal di sektor teknologi. Meta Platforms memberikan sinyal bahwa ekspansi pusat data mereka akan tetap berada dalam koridor proyeksi, yang memicu keraguan mengenai keberlanjutan lonjakan belanja modal perusahaan-perusahaan skala besar (hyperscaler). Di sisi lain, muncul spekulasi bahwa Apple mulai mempertimbangkan penggunaan chip dari produsen Tiongkok untuk menekan biaya, sebuah langkah yang mengancam dominasi harga pemasok domestik Amerika Serikat.

Kendati mengalami koreksi, catatan historis Micron tetap impresif dengan pertumbuhan sekitar 250 persen sepanjang 2026 dan melonjak hampir 700 persen dalam dua belas bulan terakhir. Namun, volatilitas ini diprediksi bakal merembet ke pasar modal domestik.

Para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diimbau untuk mencermati dampak psikologis dari koreksi raksasa teknologi AS ini. Mengingat tingginya korelasi antara sektor teknologi global dan sentimen di pasar saham lokal, saham-saham sektor teknologi dan digital di Tanah Air berpotensi mengalami tekanan jual sebagai respons atas ketidakpastian di Wall Street.