PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) saat ini tengah bergerak mantap melakukan restrukturisasi bisnis pasca perubahan pengendali perusahaan ke PT PIMSF Pulogadung. Langkah strategis ini menempatkan GPSO sebagai bagian dari ekosistem bisnis Tjokro Group yang berfokus pada penguatan sektor industri berat.

Manajemen GPSO mengungkapkan bahwa perusahaan kini tengah mengkaji potensi ekspansi yang menyasar industri komponen mekanikal dan permesinan (machining). Langkah ini dipandang sebagai upaya vital untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar sekaligus mempererat rantai pasok industri mekanikal terpadu di Indonesia.

Guna memuluskan transisi tersebut, GPSO sebelumnya telah berhasil menggalang dana sebesar Rp 28,46 miliar melalui skema penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement. Sebanyak 66,67 juta saham baru telah diterbitkan dengan harga pelaksanaan Rp 427 per lembar saham.

Hingga saat ini, perseroan menyatakan bahwa seluruh proses lanjutan masih dalam tahap uji tuntas (due diligence). Pihak manajemen menegaskan bahwa setiap langkah transformasi akan dilakukan dengan tetap mematuhi regulasi pasar modal serta mengedepankan prinsip keberlanjutan usaha jangka panjang.

Dari sisi pergerakan pasar, jumlah investor atau Single Investor Identification (SID) GPSO tercatat mengalami pertumbuhan, yakni mencapai 4.470 SID pada akhir Juni 2026. Dengan porsi kepemilikan saham publik sebesar 56,61%, posisi saham GPSO saat ini dinilai stabil dan tidak termasuk dalam daftar konsentrasi kepemilikan saham tinggi.

Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyoroti bahwa saham GPSO saat ini masih berada dalam fase konsolidasi. Pelaku pasar disarankan untuk memantau realisasi transformasi bisnis sebagai katalis utama pergerakan harga saham, dengan mencermati level dukungan (support) di kisaran Rp 268 hingga Rp 276 serta level resistensi di angka Rp 300 hingga Rp 316.