Kawasan Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, baru-baru ini menjadi sorotan publik menyusul beredarnya daftar harga atau pricelist yang memicu beragam spekulasi liar. Banyak pihak mengaitkan daftar tersebut dengan tarif ritual pesugihan yang selama ini melekat sebagai mitos di lokasi tersebut.

Namun, Dosen Antropologi Universitas Brawijaya, Padmo Adi, memberikan klarifikasi tegas. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, daftar harga tersebut bukanlah tarif untuk praktik klenik atau pesugihan, melainkan rincian biaya resmi bagi peziarah yang ingin menyelenggarakan acara selamatan atau doa syukur.

Padmo menjelaskan bahwa warga lokal menyediakan berbagai paket selamatan guna memudahkan peziarah. Pilihan tersebut sangat beragam, mulai dari penyediaan nasi tumpeng hingga pertunjukan wayang kulit yang menjadi bagian dari tradisi ruwatan. Besaran biaya yang tertera disesuaikan dengan kompleksitas kebutuhan masing-masing peziarah.

Senada dengan pandangan akademis tersebut, warga lokal bernama Recha menegaskan bahwa daftar biaya itu telah lama menjadi bagian dari pelayanan bagi peziarah yang ingin menggelar syukuran, bukan untuk tujuan mistis. Ia menambahkan bahwa kegiatan di sana lebih berfokus pada ungkapan rasa syukur, termasuk untuk acara seperti akikah.

Meski mengakui adanya legenda dan mitos yang berkembang di Gunung Kawi, para narasumber sepakat bahwa narasi mengenai 'tarif pesugihan' adalah sebuah kekeliruan informasi. Masyarakat setempat sejatinya hanya memfasilitasi kebutuhan logistik bagi para peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk menunaikan doa secara khusyuk.