Jakarta dan daerah di luar jangkauannya sering kali memiliki jarak persepsi yang lebar. Bagi sebagian warga ibu kota, peta Indonesia seolah hanya berpusat pada area Jabodetabek, Bandung, hingga Bali. Fenomena ini tercermin jelas pada bagaimana Demak, sebuah kabupaten sarat sejarah di Jawa Tengah, kerap disalahpahami oleh para pendatang yang bekerja di Jakarta.
Salah satu kesalahpahaman yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa seluruh wilayah Demak telah tenggelam akibat banjir rob. Narasi yang sering berseliweran di media sosial mengenai kondisi pesisir Sayung membuat warga Jakarta berasumsi bahwa daerah ini telah menjadi 'Atlantis' baru. Padahal, kenyataannya, wilayah yang terdampak rob hanyalah kawasan pesisir tertentu, sementara sebagian besar wilayah Demak tetap beraktivitas normal di atas tanah yang kering.
Selain soal bencana, standar hiburan warga ibu kota yang sangat bergantung pada mal, bioskop modern, dan pusat perbelanjaan besar sering kali menjadi tolok ukur mereka dalam menilai sebuah kota. Ketika mengetahui Demak tidak memiliki fasilitas gaya hidup serupa, muncul rasa iba yang berlebihan. Mereka menganggap bahwa ketiadaan mal identik dengan kesepian dan tidak adanya sarana rekreasi bagi masyarakat setempat.
Namun, pola pikir tersebut mengabaikan fakta bahwa Demak memiliki identitas wisata yang jauh berbeda. Alih-alih mencari hiburan di pusat perbelanjaan, denyut nadi pariwisata Demak berpusat pada wisata religi dan sejarah, seperti Masjid Agung Demak serta Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Destinasi ini secara konsisten menarik jutaan peziarah dari berbagai penjuru tanah air setiap tahunnya.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai kehidupan di Demak versus Jakarta hanyalah cerminan dari pola pikir Jakartasentris yang kental. Apa yang dianggap membosankan oleh warga kota besar justru menjadi sumber kekuatan ekonomi dan ketenangan spiritual yang membuat Demak tetap hidup dan relevan hingga hari ini.