Perhelatan BRI Jazz Gunung Bromo 2026 kembali menyuguhkan daya tarik magisnya melalui sesi khusus bertajuk "Before Sunset". Berlokasi di Amfiteater Jiwa Jawa Resort, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, acara ini menyajikan harmoni musik jazz yang memikat tepat menjelang matahari terbenam. Kendati suhu udara di kawasan pegunungan tersebut merosot hingga mencapai 14 derajat Celsius, dinginnya cuaca sama sekali tidak menyurutkan antusiasme para pencinta musik yang memadati area tribun.
Kemeriahan hari pertama dibuka dengan manis oleh penampilan talenta lokal, Bromo Jazz Camp. Suasana syahdu kian terasa tatkala grup musik asal Taiwan, Plutato yang berkolaborasi dengan Cait Lin, naik ke atas pentas. Meski membawakan repertoar dalam bahasa asing—seperti lagu "Syzygy", "Colours in the Sky", hingga "Fresh Air"—penampilan mereka tetap mampu menyatu sempurna dengan lanskap alam Bromo yang megah.
Bagi Cait Lin, sang vokalis, kesempatan tampil di ajang bergengsi ini menjadi memori yang sangat berkesan. Ia menyatakan kegembiraannya bisa menyapa langsung para penikmat jazz di Bromo setelah sebelumnya sempat mengunjungi beberapa destinasi ikonik di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, dan Bali.
Memasuki waktu petang, panggung "Before Sunset" semakin semarak dengan kehadiran solois Bilal Indrajaya. Penyanyi bersuara khas ini langsung disambut sorak-sorai penonton. Membawakan sederet tembang hits miliknya seperti "Mustahil", "Saujana", dan "Niscaya", Bilal sukses memandu para penonton untuk bernyanyi bersama, menciptakan momen hangat di tengah kabut pegunungan.
Usai pertunjukan, Bilal mengutarakan kekagumannya terhadap atmosfer konser yang terasa akrab sekaligus tertib. Ia berharap festival musik ini terus konsisten diselenggarakan setiap tahun sebagai ruang regenerasi bagi musisi tanah air. Acara pembuka ini menjadi pemanasan yang ideal sebelum memasuki konser utama yang diharapkan dapat terus mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.