Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB Gabsi) didesak untuk segera mengambil langkah konkret dalam menyelesaikan sengketa pembayaran hadiah pada sebuah turnamen bridge yang berlangsung di Balikpapan, Kalimantan Timur. Desakan ini muncul setelah pihak Bridge Tournament Center (BTC) merasa dirugikan akibat belum diterimanya hak hadiah yang dijanjikan.
Thoriq Alkatiri, CEO sekaligus pemilik BTC, menekankan pentingnya peran PB Gabsi sebagai induk organisasi untuk hadir sebagai mediator. Intervensi ini dinilai krusial guna menjamin perlindungan hak bagi para atlet, pelatih, serta klub yang telah berpartisipasi, sekaligus menjaga integritas dan martabat penyelenggaraan turnamen bridge di tingkat nasional.
Permasalahan ini bermula dari turnamen yang dihelat pada 12 hingga 14 Juni 2026 lalu. Acara tersebut sempat menarik animo besar dengan total hadiah mencapai Rp250 juta, bahkan diikuti oleh peserta dari mancanegara seperti Singapura dan Filipina. Namun, hingga saat ini, BTC melaporkan bahwa mereka belum menerima sisa pembayaran hadiah sebesar Rp30 juta sebagai pemenang peringkat kedua.
Lebih lanjut, Thoriq menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini sangat mendesak. Ia khawatir jika dibiarkan berlarut-larut, insiden ini akan mencederai kepercayaan komunitas bridge di berbagai daerah, khususnya di wilayah Kalimantan, terhadap penyelenggaraan turnamen di masa depan. Diharapkan langkah tegas PB Gabsi dapat meminimalisir risiko serupa di kemudian hari.