Industri hiburan Tiongkok saat ini tengah menghadapi gejolak besar akibat implementasi kebijakan baru dalam penyusunan kredit pemeran. Aturan yang digagas oleh pihak otoritas seni ini mewajibkan urutan nama aktor dalam proyek film maupun drama disusun berdasarkan jumlah goresan aksara pada nama keluarga mereka, sebuah langkah yang ditujukan untuk meredam persaingan ego antar-bintang yang kerap terjadi dalam perebutan posisi utama.
Selain menyederhanakan kategori menjadi hanya tiga kelompok—yakni Aktor Utama, Aktor Pendukung, dan Aktor Tamu—regulasi ini juga melarang penambahan titel khusus yang sering kali menjadi celah bagi rumah produksi untuk mengistimewakan aktor tertentu. Usulan ini awalnya didorong oleh aktris senior Zhang Kaili sebagai anggota Asosiasi Seniman Televisi Tiongkok (CTAA) dengan harapan para pelaku seni dapat kembali fokus pada kualitas akting ketimbang sekadar status di papan nama.
Namun, penerapan aturan ini justru menimbulkan kekacauan baru. Banyak aktor papan atas merasa dirugikan karena peringkat mereka dalam kredit film kini berada di bawah aktor junior atau pemeran pendukung hanya karena perbedaan jumlah goresan pada nama mereka. Kasus seperti yang dialami aktris populer Yang Mi menjadi sorotan, di mana ia harus tercantum setelah rekan juniornya, meskipun ia memikul beban kerja yang jauh lebih besar di lokasi syuting.
Kritik tajam pun mengalir dari para pelaku industri. Sejumlah pihak menilai kebijakan ini tidak realistis dan tidak mempertimbangkan kontribusi nyata serta nilai komersial seorang aktor dalam sebuah proyek. Bahkan, seorang staf senior di rumah produksi besar menyebut aturan ini sebagai kebijakan yang melawan arus pasar dan diprediksi akan sulit bertahan lama karena dianggap justru mencederai struktur profesionalisme yang telah terbangun selama bertahun-tahun di industri film Tiongkok.