Indeks sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia (IDXTechno) mencatatkan pergerakan positif pada penutupan perdagangan Senin (8/7/2026) dengan penguatan sebesar 0,92% ke level 6.511. Data BEI menunjukkan bahwa kenaikan ini didorong oleh apresiasi harga pada 17 saham, sementara 18 saham lainnya stagnan dan 13 saham mengalami koreksi.

Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyoroti perbedaan arah antara pasar domestik dan global. Jika pasar global cenderung terdorong oleh kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, perusahaan teknologi di Indonesia saat ini justru lebih berfokus pada upaya efisiensi biaya daripada langkah ekspansi bisnis yang agresif.

Menurut Liza, fokus emiten teknologi nasional saat ini masih tertahan pada isu profitabilitas, sengitnya persaingan pasar, tantangan regulasi, serta langkah restrukturisasi tenaga kerja. Langkah efisiensi tersebut terlihat nyata dari tren pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang dilakukan oleh sejumlah pemain besar seperti GoTo, Global Digital Niaga (BELI), hingga Bukalapak (BUKA) sepanjang kurun waktu 2025 hingga pertengahan 2026.

Di papan perdagangan BEI, sektor ini mencakup keragaman model bisnis, mulai dari distributor perangkat keras seperti MTDL dan GLVA, hingga penyedia infrastruktur pusat data seperti DCII dan EDGE. Namun, secara year-to-date (ytd) tahun 2026, indeks IDXTechno masih berada dalam tekanan dengan koreksi mencapai 31,66%.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau dengan kenaikan 0,69% ke level 5.916,07. Meski demikian, tekanan dari investor asing masih berlanjut, tercermin dari aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp190,90 miliar pada perdagangan hari ini, yang menambah akumulasi penjualan asing menjadi Rp74,60 triliun sejak awal tahun 2026.