Raksasa teknologi Apple resmi melayangkan gugatan hukum terhadap OpenAI dalam dokumen setebal 41 halaman. Perusahaan yang berbasis di Cupertino tersebut menuding pengembang ChatGPT itu melakukan kampanye sistematis untuk membajak karyawan kunci serta mengumpulkan informasi rahasia terkait proses pengembangan teknologi dan produk Apple yang belum dirilis ke publik.
Dalam gugatannya, Apple menyebut bahwa OpenAI memanfaatkan data tersebut untuk memuluskan ambisi pengembangan perangkat keras kecerdasan buatan (AI) mereka. Langkah hukum ini diambil setelah upaya diplomasi internal sejak Februari 2026 dinilai menemui jalan buntu akibat tidak adanya respons memadai dari pihak OpenAI terhadap kekhawatiran yang diajukan Apple.
Gugatan tersebut juga menyasar io Products, sebuah perusahaan perangkat keras yang didirikan oleh mantan Kepala Perancang Apple, Jony Ive, yang telah diakuisisi oleh OpenAI pada 2025. Apple secara spesifik menyoroti dua mantan pegawainya, Tang Yew Tan dan Chang Liu, yang kini menduduki posisi strategis di OpenAI. Tan dituduh menggunakan akses informasi internal, termasuk kode rahasia proyek, selama proses rekrutmen berlangsung.
Lebih jauh, Apple mengklaim bahwa tindakan tersebut merupakan pola yang lebih luas, mengingat saat ini terdapat sekitar 400 mantan karyawan Apple yang kini bekerja di OpenAI. Pihak Apple menegaskan bahwa temuan ini hanyalah "puncak gunung es" dan menuntut ganti rugi serta perintah pengadilan untuk menghentikan penggunaan informasi rahasia yang diduga disalahgunakan.
Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara OpenAI dengan tegas membantah keterlibatan perusahaan dalam praktik ilegal. Pihaknya menyatakan bahwa fokus utama OpenAI tetap pada inovasi teknologi global dan tidak memiliki kepentingan untuk mengambil rahasia dagang dari pihak lain. Sengketa ini menandai titik nadir dalam hubungan kedua perusahaan, yang sebelumnya sempat menjalin kolaborasi strategis dalam integrasi chatbot ke dalam ekosistem Apple pada tahun 2024.