Bursa saham Tokyo mengalami tekanan hebat pada transaksi Selasa (28/7/2026). Indeks saham acuan Nikkei 225 merosot tajam hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir akibat aksi jual masif yang melanda sektor teknologi global.
Berdasarkan data perdagangan resmi, indeks Nikkei 225 ditutup melemah signifikan sebesar 2.566,27 poin atau anjlok 3,95 persen ke posisi 62.364,92. Pada awal transaksi hari itu, indeks sebenarnya sempat dibuka di level 64.539,92 dan menyentuh titik tertinggi harian di level 64.573,18 sebelum akhirnya terus tertekan hingga jatuh ke level terendah harian di 61.923,60.
Keterpurukan pasar saham Jepang kali ini dipicu oleh efek domino dari bursa Wall Street Amerika Serikat, khususnya kejatuhan saham-saham produsen cip semikonduktor. Para pelaku pasar global mulai bersikap skeptis terhadap efektivitas belanja modal besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan oleh raksasa teknologi, karena dinilai belum tentu menghasilkan pertumbuhan laba yang sepadan dalam waktu dekat.
Karakteristik indeks Nikkei yang menggunakan metode pembobotan harga saham (price-weighted) membuat koreksi tajam pada saham produsen cip lokal langsung membebani kinerja indeks secara keseluruhan. Saham Kioxia Holdings memimpin kemerosotan dengan terjun bebas hingga 18,33 persen, disusul oleh Sumco yang anjlok 16,53 persen, serta Lasertec yang melemah 14,05 persen.
Pelemahan ini juga merembet ke sektor perbankan seiring sikap hati-hati para investor menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral. Saham-saham perbankan utama seperti Mitsubishi UFJ dan Mizuho kompak melemah di kisaran 3,2 persen hingga 4,9 persen. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar yen ke kisaran 163,73 per dolar AS gagal menjadi katalis positif bagi emiten eksportir karena tertutup oleh besarnya tekanan jual di pasar.