Kemeriahan Festival Lima Gunung (FLG) XXV/2026 resmi dimulai di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kabupaten Magelang, pada Jumat (10/7/2026). Perhelatan budaya mandiri yang dirintis oleh seniman petani ini dibuka melalui prosesi kontemporer bertajuk "Nandur Eling" atau menanam ingatan, yang diwujudkan lewat penanaman bibit pohon penghijauan di area tanah bengkok desa setempat.

Prosesi tersebut melibatkan lima tokoh sentral, yakni sesepuh warga Darto, Kepala Dusun Warangan Budiono, Sekretaris Desa Muneng Warangan Solichin, Ketua KLG Sujono, serta budayawan Sutanto Mendut. Lima jenis bibit pohon—yakni krengsek, kersen, pule, jambu, dan durian—ditanam sebagai simbol harapan agar nilai-nilai kebudayaan masyarakat gunung terus tumbuh dan lestari di tengah arus zaman.

Ketua Komunitas Lima Gunung (KLG), Sujono, menegaskan bahwa "Nandur Eling" bukan sekadar seremonial. Ritual ini menjadi pengingat bagi warga komunitas untuk terus memelihara kearifan lokal seperti gotong royong, sopan santun, dan keharmonisan dengan alam. Ia menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi agar karakter luhur bangsa tetap terjaga.

Festival yang berlangsung hingga 12 Juli 2026 ini mengusung tema "Makin Goblok Bareng", sebuah ajakan untuk rendah hati dalam mengupayakan kehidupan bersama yang lebih baik. Sebanyak 85 grup kesenian dengan total 1.274 personel dijadwalkan tampil, menyuguhkan kolaborasi seni tradisional, kontemporer, hingga sarasehan kebudayaan di panggung-panggung yang dihias dengan ornamen alam seperti jerami dan bambu.

Budayawan Sutanto Mendut menambahkan bahwa FLG merupakan wujud keteguhan masyarakat petani dalam memegang tradisi di tengah zaman baru. Sejak pertama kali digelar pada 2002 di Dusun Warangan, festival ini telah membuktikan diri sebagai kekuatan mandiri masyarakat desa dalam merawat identitas budaya di kawasan yang dikelilingi lima gunung besar: Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.