PDAM Tirta Sembada Kabupaten Sleman resmi menjadi proyek percontohan nasional dalam penerapan teknologi satelit untuk mendeteksi kebocoran pipa bawah tanah. Inisiatif strategis ini merupakan hasil kolaborasi riset antara PDAM Sleman, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan perusahaan konsultan teknologi asal Korea Selatan, Stellarvision.
Kesepakatan uji coba (POC Agreement) tersebut telah ditandatangani oleh Direktur Utama PDAM Sleman, Bernadus Edy Nugroho, bersama perwakilan Stellarvision, Junse Oh, pada Senin (13/7/2026). Kerja sama ini merupakan bagian dari mandat Kemendikbudristek kepada UGM sebagai Pusat Unggulan Antar Universitas dalam mengembangkan inovasi berbasis teknologi mutakhir.
Kepala Biro Manajemen Strategis UGM, Wirastuti Widyatmanti, menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan adalah satelit radar Saocom. Selama enam bulan ke depan, tim peneliti akan melakukan simulasi dan identifikasi kebocoran saat satelit melintas di atas wilayah Sleman. Keberhasilan inisiatif ini nantinya diharapkan dapat diimplementasikan ke skala nasional, meskipun saat ini terdapat tantangan berupa adaptasi teknologi dari iklim sub-tropis ke iklim tropis Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi.
Di sisi lain, Direktur Utama PDAM Sleman, Bernadus Edy Nugroho, menyambut baik kolaborasi ini karena angka kehilangan air atau Non Revenue Water (NRW) di wilayahnya masih tercatat cukup tinggi, yakni mencapai 24,5 persen. Selama ini, pencarian titik kebocoran sering terkendala oleh lokasi pipa yang tertanam di bawah tanah dan akses yang sulit.
Permasalahan kebocoran pipa di Sleman selama ini dipicu oleh berbagai faktor, seperti beban kendaraan berat yang melintas di atas jaringan, gangguan akar pohon, hingga faktor usia infrastruktur pipa yang sudah tua. Wilayah Nogotirto, Bimomartani, dan Sleman bagian barat dilaporkan menjadi titik dengan tingkat kerawanan kebocoran tertinggi.