BPJS Kesehatan Cabang Semarang tengah memfokuskan perhatian pada peningkatan kualitas layanan hemodialisa atau cuci darah bagi para peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Langkah ini diambil merespons tren kenaikan jumlah pasien yang menjalani terapi hemodialisa sebesar 5,86 persen, dengan total mencapai 12.342 kasus pada tahun ini di wilayah Semarang dan Demak.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Sari Quratul Ainy, menyatakan bahwa pihaknya kini melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta standar prosedur di berbagai fasilitas kesehatan. Saat ini, sebanyak 286 mesin hemodialisa telah disiagakan untuk memastikan kebutuhan peserta JKN dapat terlayani secara optimal.

Dalam pelaksanaannya, pasien hemodialisa akan ditangani langsung oleh Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi atau dokter spesialis dengan sertifikasi dialisis. Langkah ini bertujuan agar kondisi klinis, evaluasi adekuasi dialisis, serta penyesuaian terapi obat dapat dilakukan secara akurat dan bertanggung jawab.

Selain aspek kuratif, BPJS Kesehatan juga menekankan pentingnya upaya preventif melalui pemanfaatan aplikasi Mobile JKN. Melalui fitur skrining mandiri, peserta dapat mendeteksi dini risiko penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi yang berpotensi memicu gagal ginjal. Peserta dengan risiko tinggi akan diarahkan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Ketua Tim Kendali Mutu dan Kendali Biaya Cabang Semarang, Sigid Kirana Lintang Bhima, menyoroti pergeseran tren penyakit kronis yang kini banyak menyerang kelompok usia muda di bawah 40 tahun. Oleh karena itu, ia mendorong penguatan program preventif, termasuk wacana pengembangan 'Prolanis Muda', agar laju penambahan pasien hemodialisa dapat ditekan secara signifikan di masa depan.