Pemerintah Kota Makassar tengah gencar mencari inovasi teknologi guna menuntaskan tantangan pengelolaan sampah yang kian mendesak. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari persiapan krusial untuk menghentikan sistem pembuangan terbuka (open dumping) di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang ditargetkan rampung pada Agustus 2026 mendatang.
Sebagai upaya nyata, Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, melakukan kunjungan kerja ke PT Enviro Mas Sejahtera di Denpasar, Bali. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah daerah mempelajari sistem SOMYA Digester, sebuah mesin pengolah sampah organik yang diklaim memiliki kecepatan luar biasa dalam mengubah sampah menjadi kompos dalam durasi 4 hingga 8 jam, jauh melampaui metode komposting konvensional yang memakan waktu berbulan-bulan.
Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, menekankan bahwa teknologi ini sangat relevan mengingat sekitar 60 persen sampah di Makassar didominasi oleh limbah organik. Keunggulan utama SOMYA Digester terletak pada kemampuannya mereduksi volume sampah hingga 90 persen. Artinya, dari 100 kilogram sampah, hanya tersisa 10 kilogram residu kompos. Proses ini pun diklaim ramah lingkungan karena dilakukan tanpa pembakaran, sehingga tidak menghasilkan emisi gas metana yang berbahaya atau menimbulkan bau menyengat.
Teknologi ini dirancang dengan sistem operasional berbasis layar sentuh (HMI) yang praktis dan tidak membutuhkan ruang luas. Dengan demikian, mesin ini ideal untuk diterapkan di berbagai fasilitas publik, kawasan komersial, maupun pusat pelayanan masyarakat lainnya. Pengembang teknologi, Agung Ngurah Panji Astika, menyatakan bahwa inovasi ini dirancang untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan di tingkat daerah.
Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan komitmen pemerintah untuk mengadopsi praktik terbaik dalam manajemen persampahan. Kedepannya, Pemkot Makassar memproyeksikan TPA hanya akan menerima sampah residu, sementara sampah organik akan diproses secara mandiri sejak dari sumbernya. Harapannya, integrasi teknologi ini dapat mempercepat pembenahan sistem lingkungan di Makassar sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada warga setempat.