Sebuah rekaman video berdurasi 10 detik yang menampilkan erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau dengan semburan api besar di malam hari, mendadak viral di berbagai platform media sosial. Video tersebut sempat meresahkan publik, terutama di tengah meningkatnya status aktivitas vulkanik gunung tersebut ke Level III atau Siaga.
Namun, pihak berwenang memastikan bahwa visual tersebut bukan merupakan kondisi terkini dari Gunung Anak Krakatau. Andi Suwardi, petugas pemantau di Pos Pengamatan Desa Hargo Pancuran, menegaskan bahwa video yang beredar luas itu tidak akurat dan tidak mencerminkan aktivitas erupsi yang terjadi saat ini.
Menurut data pemantauan, erupsi terakhir tercatat terjadi pada Jumat (3/7/2026) sore sekitar pukul 15.00 WIB. Sejak saat itu, hingga Sabtu siang, tidak terpantau adanya aktivitas letusan susulan yang signifikan. Kendati demikian, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga), sehingga radius aman 3 kilometer dari pusat kawah wajib dipatuhi oleh nelayan maupun wisatawan.
Menanggapi penyebaran informasi yang keliru ini, Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam memilah informasi kebencanaan. Ia menegaskan pentingnya memverifikasi setiap kabar melalui kanal resmi seperti Badan Geologi, BMKG, atau instansi terkait guna mencegah kepanikan yang tidak perlu di tengah masyarakat.
Sebagai informasi, peningkatan status ke Level III telah ditetapkan sejak Kamis (2/7/2026) menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang ditandai dengan lonjakan gempa dangkal, deformasi tubuh gunung, hingga emisi gas sulfur dioksida yang terpantau meningkat secara konsisten.