Perjuangan mempertahankan akses pendidikan di wilayah pelosok Lampung menghadapi tantangan berat. Sebuah sekolah dasar yang didirikan secara swadaya di kawasan puncak gunung kini terancam sunyi setelah jumlah murid yang aktif belajar di lembaga tersebut menyusut drastis hingga menyisakan 10 anak saja.

Pendirian sekolah ini berawal dari inisiatif mulia warga setempat yang prihatin terhadap nasib anak-anak mereka. Mengingat jarak ke sekolah negeri terdekat sangat jauh dan medan jalan yang ekstrem, masyarakat sepakat menyisihkan penghasilan mereka untuk membangun ruang kelas sederhana di atas gunung tersebut agar anak-anak tidak putus sekolah.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, minimnya fasilitas penunjang serta sulitnya akses transportasi membuat jumlah siswa terus berkurang dari tahun ke tahun. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan tenaga pendidik yang sebagian besar berstatus honorer dan hanya bertahan karena rasa pengabdian yang tinggi terhadap pendidikan di desa mereka.

Warga berharap pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap keberlangsungan sekolah ini. Meski jumlah murid sangat sedikit, keberadaan sekolah di puncak gunung ini dinilai sangat vital demi menjaga asa anak-anak pelosok Lampung dalam memperoleh hak dasar pendidikan mereka.