Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengambil langkah strategis untuk memperkuat ekosistem riset nuklir di Indonesia dengan mengalokasikan anggaran sebesar 8 hingga 10 juta dolar AS, atau setara dengan Rp144 miliar hingga Rp180 miliar. Investasi besar ini difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar Indonesia mampu menguasai pemanfaatan teknologi nuklir untuk kepentingan yang aman, damai, dan berkelanjutan.
Program ini menyasar para mahasiswa tingkat doktoral melalui skema 'Targeted Scholarship' yang dirancang khusus bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Deputi Bidang SDM Iptek BRIN, Edi Giri Rachman Putera, mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan pengiriman 200 mahasiswa ke berbagai perguruan tinggi kelas dunia. Tsinghua University di Tiongkok menjadi salah satu destinasi utama bagi para peneliti muda untuk mendalami spesialisasi teknik fisika, teknologi reaktor, serta teknologi akselerator.
Selain pemberian beasiswa gelar, BRIN juga membuka ruang mobilitas internasional yang memungkinkan kolaborasi riset langsung di pusat penelitian global. Salah satu inisiatif unggulan adalah program riset selama enam bulan di CERN, Swiss, di mana para mahasiswa dapat melakukan penelitian yang hasilnya dapat dikonversikan sebagai tugas akhir studi mereka.
Di sisi lain, penguatan jejaring pendidikan juga diperluas melalui kolaborasi China-Indonesia Belt and Road Joint Laboratory. Melalui skema ini, pemerintah berharap para dosen, peneliti, dan perguruan tinggi di Indonesia dapat semakin terintegrasi dengan ekosistem riset global. Langkah ini dipandang sebagai kunci utama untuk membangun kemandirian teknologi nuklir nasional yang kompetitif di masa depan.