Pertumbuhan sektor kuliner yang pesat di Jawa Timur membawa dampak ganda bagi masyarakat. Di satu sisi, industri kafe menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang signifikan. Namun, di sisi lain, fenomena ini justru menciptakan pola konsumsi baru yang berisiko bagi kesehatan, terutama akibat tingginya asupan gula pada kelompok usia produktif.
Hasil riset Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) menunjukkan adanya kesenjangan nyata antara pengetahuan masyarakat mengenai hidup sehat dengan realitas keseharian. Sebanyak 56 persen responden mengakui bahwa budaya 'nongkrong' dan tren bekerja dari kafe membuat mereka lebih sering mengonsumsi makanan serta minuman olahan tinggi gula sebagai pendamping kopi atau teh.
Sekretaris Yagitu, Nuryadi, menyatakan bahwa niat masyarakat untuk menjaga kesehatan seringkali terbentur oleh keterbatasan waktu dan pengaruh lingkungan sosial. Data tersebut menyoroti bahwa faktor rasa, kebutuhan energi instan, hingga kebiasaan sosial menjadi pendorong utama pola makan kurang sehat yang kini mewabah di kalangan anak muda.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menekankan pentingnya sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah. Ia menegaskan bahwa kebijakan yang akan diambil tidak boleh sekadar bersifat teknokratis, melainkan harus mampu menjawab tantangan nyata di lapangan dengan mempertimbangkan realitas sosial dan kearifan lokal.
Pakar kesehatan dan pemerintah daerah saat ini mewaspadai peningkatan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes dan hipertensi, yang mulai banyak menyerang kelompok usia muda. Perubahan gaya hidup sedenter—kurangnya aktivitas fisik akibat ketergantungan pada gawai dan budaya nongkrong—dianggap menjadi ancaman serius bagi terwujudnya target Generasi Emas 2045 yang tangguh secara fisik maupun mental.