Pasar modal Jepang mencatatkan tren negatif selama tiga sesi beruntun setelah indeks acuan Nikkei ditutup melemah 2,11% ke level 66.819,05 pada Rabu (8/7/2026). Pencapaian ini sekaligus menandai posisi terendah indeks dalam kurun waktu hampir empat pekan terakhir, sementara indeks Topix juga terkoreksi 1,37% ke posisi 4.006,43.

Kelesuan di Tokyo dipicu oleh sentimen negatif yang merambat dari bursa Amerika Serikat, di mana indeks Nasdaq mengalami penurunan tajam. Ketidakpastian investor terhadap keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utama aksi jual global. Selain itu, kinerja keuangan Samsung Electronics yang di bawah ekspektasi pasar memicu gelombang aksi ambil untung di sektor semikonduktor kawasan Asia.

Para analis pasar menilai bahwa kepercayaan investor terhadap sektor AI saat ini tengah goyah. Daisuke Hashizume, ahli strategi senior dari Daiwa Securities, menyatakan bahwa meskipun Samsung memberikan proyeksi yang solid, pasar tetap skeptis mengenai potensi kenaikan harga saham yang konsisten ke depannya. Kondisi ini diperburuk dengan sentimen di Korea Selatan, di mana indeks KOSPI kini berada dalam zona 'bearish' setelah turun lebih dari 20% dari rekor tertingginya.

Dampak sentimen ini terlihat jelas pada emiten teknologi Jepang. Tokyo Electron tergelincir 3,05%, sementara Advantest mencatatkan koreksi lebih dalam sebesar 4,69%. Penurunan paling signifikan dialami oleh produsen kapasitor Taiyo Yuden yang merosot hingga 8%. Di tengah tekanan sektor teknologi, investor cenderung mulai beralih ke saham yang bersifat defensif dan berorientasi pada permintaan domestik, seperti tercermin dari penguatan saham operator telekomunikasi KDDI sebesar 1,04%.

Data dari Bursa Efek Tokyo menunjukkan kondisi pasar yang cukup berat, dengan 61% dari total 1.500 saham yang diperdagangkan mengalami pelemahan, sementara hanya 36% yang mampu mencatatkan kenaikan.