Kabupaten Ngada di Nusa Tenggara Timur menyimpan potensi pertanian yang luar biasa, khususnya pada komoditas kemiri. Guna memaksimalkan potensi ekonomi tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB) turun langsung mendampingi warga Desa Wolomeze, Kecamatan Riung Barat, untuk meningkatkan nilai jual kemiri lokal melalui penerapan teknologi pascapanen yang modern dan efisien.

Program yang berlangsung pada awal Juli 2026 ini diinisiasi oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) serta Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Langkah strategis ini dirancang sebagai tindak lanjut dari temuan Ekspedisi Patriot 2025 yang mengidentifikasi bahwa kendala utama petani setempat adalah metode pengolahan pascapanen yang masih sangat tradisional.

Dalam kegiatan ini, tim ahli ITB yang dipimpin oleh Prof. Endah Sulistyawati memberikan pelatihan komprehensif kepada sekitar 50 warga dari Desa Wolomeze dan Desa Ria. Materi pelatihan mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari sortasi buah, pengeringan, penggunaan mesin pemecah, hingga pengemasan kedap udara. Tak hanya teori, ITB juga menghibahkan satu unit mesin pemecah kemiri bertenaga listrik beserta alat pengemas vakum untuk dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.

Profesor Endah Sulistyawati menekankan pentingnya proses hilirisasi ini agar petani tidak lagi menjual kemiri dalam bentuk bahan mentah dengan harga murah. Melalui sentuhan teknologi tepat guna, komoditas lokal ini diharapkan dapat diolah menjadi produk setengah jadi atau produk siap konsumsi yang memiliki daya saing tinggi di pasar yang lebih luas.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas kelembagaan, perwakilan perangkat desa dan pengurus BUMDes Wolomeze juga diajak melakukan studi banding ke Desa Inegena di Kecamatan Bajawa Utara. Desa tersebut sukses menjadi percontohan berkat kemampuannya mengelola industri pengolahan kemiri secara mandiri dan profesional lewat unit usaha desa mereka.

Selain fokus pada komoditas kemiri, tim riset ITB juga memanfaatkan momentum ini untuk melakukan survei geolistrik air tanah di kawasan transmigrasi Desa Uluwae II yang selama ini kesulitan air bersih. Sinergi multisektor ini diharapkan dapat terus berlanjut demi mendorong kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di pelosok NTT.