Kelompok Tani Kopi Benteng Senggang di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, kini memiliki harapan baru untuk meningkatkan kualitas hasil panen mereka. Melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Universitas Bosowa Makassar memperkenalkan teknologi Solar Dryer Dome sebagai solusi adaptasi iklim bagi para petani di kaki pegunungan Lompobattang tersebut.
Selama ini, petani setempat menghadapi kendala serius dalam proses pascapanen karena ketergantungan pada sinar matahari. Curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut sering kali merusak kualitas biji kopi, memicu jamur, serta membuat proses pengeringan menjadi sangat lambat. Keterbatasan manajemen alat produksi komunal pun menjadi penghambat utama bagi kelompok tani untuk menembus standar mutu pasar yang lebih luas.
Teknologi Solar Dryer Dome yang diserahkan berbentuk kubah dengan rangka besi galvanis berpenutup plastik ultraviolet. Fasilitas seluas 24 meter persegi ini mampu menampung 200-300 kilogram kopi basah per siklus. Dengan inovasi ini, proses pengeringan yang sebelumnya memakan waktu hingga lima bulan, kini diproyeksikan selesai dalam waktu dua hingga tiga bulan saja, sekaligus memberikan perlindungan dari paparan hujan langsung.
Selain dukungan infrastruktur, tim pengabdi yang dipimpin oleh Tismi Dipalaya juga memberikan pendampingan manajemen kelembagaan dan pelatihan teknik pengolahan kopi modern. Bekerja sama dengan ahli dari Kopiapi Coffee Roaster, petani dilatih mempraktikkan metode pengolahan washed, honey, dan natural untuk meningkatkan nilai jual kopi mereka di pasar yang lebih kompetitif.
Pendekatan yang disebut sebagai 'edukasi iklim reflektif' ini tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga membangun kesadaran petani akan dampak perubahan pola cuaca. Dengan target peningkatan kapasitas pengolahan hingga 3-5 ton per petani, program yang didanai oleh Kemdiktisaintek ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di sektor pertanian lokal.