Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) dalam agenda Rapat Umum Anggota (RUA) menyoroti berbagai tantangan berat yang tengah membayangi sektor penerbangan domestik. Dinamika krisis geopolitik internasional, seperti konflik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, dinilai menjadi pemicu utama ketidakpastian yang menghantam efisiensi operasional maskapai.
Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menjelaskan bahwa dampak dari situasi global tersebut berimbas langsung pada lonjakan harga bahan bakar avtur serta penguatan nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah. Tekanan ekonomi ini bahkan memaksa beberapa maskapai menutup rute internasional, yang secara otomatis mengganggu stabilitas bisnis penerbangan nasional.
Menghadapi situasi tersebut, INACA menekankan perlunya keberlanjutan kebijakan pemerintah yang lebih responsif dan adaptif. Denon menegaskan bahwa intervensi yang tepat tidak hanya berfungsi menjaga kesehatan finansial maskapai, baik penerbangan berjadwal maupun kargo, tetapi juga untuk memaksimalkan multiplier effect bagi sektor ekonomi lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, pihak INACA memberikan apresiasi kepada Kementerian Perhubungan atas dukungan yang telah diberikan sejauh ini. Beberapa kebijakan strategis yang dinilai berhasil membantu industri antara lain adalah penyesuaian fuel surcharge, kebijakan pembebasan PPN tiket, serta penyesuaian biaya jasa kebandarudaraan dan insentif bea masuk komponen suku cadang pesawat.
Lebih lanjut, Denon berharap kolaborasi lintas sektoral dapat terus ditingkatkan. Sinergi antara maskapai, pengelola bandara, penyuplai avtur, hingga otoritas pemerintah seperti Kementerian Perhubungan, KPPU, dan Bank Indonesia menjadi kunci utama untuk mengubah tantangan menjadi peluang pertumbuhan yang berkelanjutan bagi dunia penerbangan Indonesia.