Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Namlea mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Maluku untuk mengusut tuntas dugaan praktik pungutan liar (pungli) yang menyasar para operator ekskavator di kawasan pertambangan emas ilegal Gunung Nona, Kali Wapsalit, dan Air Panas, Kabupaten Buru. Aksi penarikan dana ilegal ini diduga kuat dilakukan oleh seorang warga berinisial A.
Ketua HMI Cabang Namlea mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengantongi bukti rekaman yang diduga berkaitan erat dengan aktivitas pungli tersebut. Hal yang sangat disayangkan, oknum tersebut disinyalir mencatut nama institusi kepolisian dengan dalih mengumpulkan dana sumbangan untuk peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara di Ambon pada awal Juli lalu.
HMI mendesak agar kepolisian segera melakukan penyelidikan internal guna memverifikasi keaslian rekaman serta menelusuri aktor-aktor yang terlibat. Jika terbukti ada pelanggaran, tindakan tegas sesuai hukum yang berlaku wajib dijatuhkan. Pasalnya, kasus pencatutan ini dinilai mencederai integritas institusi Polri dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum di wilayah Pulau Buru.
Selain fokus pada oknum berinisial A, HMI juga menuntut penertiban menyeluruh terhadap seluruh aktivitas alat berat di kawasan tambang ilegal tersebut. Penyelidikan mendalam dinilai sangat mendesak demi membongkar jaringan mafia tambang yang selama ini merugikan daerah.
Hingga saat ini, pihak kepolisian setempat belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan pungli tersebut. Seluruh informasi yang beredar masih harus dibuktikan lebih lanjut melalui proses hukum yang profesional dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.