Raksasa teknologi global, Microsoft, kembali mengumumkan langkah restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas sekitar 4.800 tenaga kerja atau setara dengan 2,1% dari total karyawan perusahaan. Keputusan ini diambil sebagai respons atas tekanan finansial yang kian meningkat akibat ambisi perusahaan dalam mengintegrasikan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) ke dalam seluruh lini bisnisnya.

Gelombang PHK ini terjadi di tengah periode sulit bagi Microsoft. Saham perusahaan tercatat mengalami penurunan performa hingga 23% dalam semester pertama tahun 2026, yang menjadi catatan terburuk sejak empat tahun terakhir. Besarnya pengeluaran untuk pembangunan pusat data dan pengembangan AI yang diproyeksikan mencapai US$ 190 miliar tahun ini, memaksa perusahaan melakukan efisiensi ketat untuk menjaga arus kas tetap stabil.

Tidak hanya berfokus pada efisiensi operasional umum, divisi game Xbox juga menjadi sorotan utama dalam agenda restrukturisasi ini. Kepala divisi game, Asha Sharma, menyebutkan bahwa bisnis tersebut memerlukan langkah pemulihan mendesak. Mengingat tren penurunan pendapatan selama lima tahun terakhir, Microsoft kini tengah mengevaluasi berbagai opsi strategis untuk unit Xbox, termasuk kemungkinan restrukturisasi besar atau pemisahan unit bisnis (spin-off).

Langkah yang diambil Microsoft ini mencerminkan fenomena serupa di industri teknologi, di mana raksasa lainnya seperti Amazon dan Meta juga terpaksa mengambil kebijakan serupa. Di tengah transisi teknologi yang semakin cepat, perusahaan-perusahaan besar kini berada di bawah tekanan pasar untuk segera menunjukkan keuntungan nyata dari investasi AI yang fantastis, sembari menekan biaya operasional demi mempertahankan nilai di mata investor.