Festival Gunung Slamet (FGS) kembali menorehkan prestasi membanggakan setelah untuk ketiga kalinya berturut-turut masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026. Penyelenggaraan ke-9 yang berlangsung di Desa Serang, Karangreja, pada 3-5 Juli 2026 ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan instrumen vital dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal.

Mengusung tema “Merawat Budaya Menggerakkan Ekonomi Desa”, festival ini menyajikan ragam atraksi tradisional mulai dari ritual Pengambilan Air Sikopyah, tradisi Perang Tomat, hingga penampilan seni kolosal. Acara yang juga dimeriahkan oleh musisi nasional ini berhasil menarik puluhan ribu pengunjung, menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan bagi sektor UMKM, penginapan, dan jasa transportasi di sekitar lereng Gunung Slamet.

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, menegaskan bahwa kesuksesan festival ini menjadi fondasi bagi pengembangan destinasi wisata yang lebih komprehensif. Pemerintah Kabupaten Purbalingga kini tengah mematangkan konsep 'One Stop Solution Tourism' yang direncanakan mulai beroperasi pada 2027. Konsep ini akan mengintegrasikan potensi Desa Serang, Kutabawa, dan Siwarak menjadi satu ekosistem wisata terpadu yang mencakup fasilitas alam, kuliner, serta akomodasi.

“Tujuan kami adalah menghadirkan pengalaman wisata yang utuh di mana masyarakat setempat menjadi pemeran utama dalam rantai ekonomi pariwisata. Kami ingin pariwisata Purbalingga tumbuh berkelanjutan dan mampu memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi warga di lereng Gunung Slamet,” ujar Bupati Fahmi saat menghadiri agenda Akustik Kabut Lembut, Sabtu (4/7/2026).

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kemajuan desa wisata di daerah tersebut, Pemerintah Kabupaten Purbalingga juga memberikan penghargaan kepada sejumlah desa berprestasi. Desa Karangcengis berhasil meraih predikat sebagai juara pertama dalam kategori Gelar Desa Wisata dan akan dipersiapkan untuk mewakili Purbalingga di tingkat Provinsi Jawa Tengah.