Pasar aset kripto global tengah berada dalam tekanan menyusul memanasnya kembali hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Bitcoin, sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, mencatatkan pelemahan pada perdagangan awal pekan ini dengan bertengger di kisaran harga US$62.810,62.

Ketidakpastian geopolitik di sekitar Selat Hormuz menjadi pemicu utama sentimen negatif bagi para investor. Gencatan senjata yang sempat memberikan harapan bagi stabilitas pasar kini pupus, seiring dengan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Richard Galvin, CEO dari firma investasi kripto DACM, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak yang dipicu oleh tensi konflik tersebut berpotensi mengerek kembali angka inflasi. Kondisi ini memaksa bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi, yang secara langsung menekan minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dan mata uang kripto lainnya, termasuk Ethereum, BNB, dan XRP.

Selain faktor geopolitik, pelemahan Bitcoin juga diperparah oleh kelesuan volume perdagangan di bursa saham Amerika Serikat. Para pelaku pasar kini bersikap lebih waspada dalam mengalokasikan modal di tengah ancaman ekonomi makro yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.