Euforia perhelatan Piala Dunia 2026 memberikan angin segar bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kalimantan Timur. Kegiatan nonton bareng (nobar) yang digelar di berbagai kedai kopi dan kafe di wilayah tersebut tercatat berhasil memicu lonjakan omzet yang cukup signifikan dibandingkan hari-hari biasanya.

Gusti Noorlitiaria Achmad, pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman, menilai bahwa sinergi antara kemudahan perizinan keramaian insidental dari pemerintah dengan ketersediaan akses siaran resmi menjadi katalis utama. Hal ini menciptakan ekosistem yang produktif bagi denyut ekonomi kerakyatan, di mana masyarakat cenderung mengalihkan anggaran hiburannya untuk menikmati pertandingan bersama di ruang publik.

Dampak positif ini tidak hanya dirasakan oleh pemilik kafe, tetapi juga menjalar ke sektor jasa lainnya. Permintaan layanan pesan antar makanan meningkat tajam, yang secara langsung memberikan kontribusi tambahan bagi pendapatan pengemudi ojek daring di Samarinda dan sekitarnya.

Salah satu pelaku usaha kuliner, Deddy Unaryo, mengungkapkan bahwa ia melakukan adaptasi strategis untuk menarik pelanggan. Dengan menghadirkan dekorasi bernuansa sepak bola dan menawarkan paket nobar yang terjangkau, ia mampu menyiasati tantangan daya beli masyarakat yang saat ini tengah mengalami kelesuan. Penyesuaian operasional kafe pun dilakukan untuk mengakomodasi jadwal pertandingan yang beragam.

Meski momentum ini memberikan keuntungan nyata, pengamat ekonomi mengingatkan pelaku bisnis untuk tetap waspada. Mengingat lonjakan permintaan ini bersifat sementara, para pengusaha disarankan untuk melakukan diversifikasi layanan, seperti mengubah fungsi kafe menjadi ruang kerja bersama (co-working space), guna menjaga stabilitas arus kas bisnis setelah turnamen sepak bola akbar tersebut berakhir.